On our way to the office
Karena rumah bos dan rumah saya berdekatan, kami cukup sering pergi/pulang kantor menggunakan mobil kantor yang sama. Salah satu topik yang sering kami perbincangkan adalah rumah. Dia lagi pusing dengan harga rumah yang semakin menggila di paris sana. Paris coret ya, karena dalam paris sendiri jarang bisa ditemukan rumah + tanah, dan kalaupun ada harganya pasti…ga usah disebut.
Menurut dia, harga rumah di banlieu (paris coret) untuk ukuran sedang dengan tanah yang sedang dan di kawasan yang lingkungannya bagus, sudah mencapai 1 yuta euro. Ngga ada korelasi dengan krisis eropa, pokonya harga property di sana udah ga make sense lagi.
Dan saya pun mengambil contoh yang mirip terjadi di Jakarta sekarang. Saya bilang, kami cukup beruntung bisa membeli tanah dan membangun rumah di tahun 2008 saat harga tanah sudah tidak segila 2-3 tahun terakhir ini. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau pada saat itu kami tidak cukup nekat (dengan perhitungan) untuk memutuskan go ahead, take the risk, hidup kismin demi membangun rumah impian kami jengkal demi jengkal (jangan ditiru), mungkin saat ini kami masih berkutat dengan pencarían rumah yang makin lama harganya makin ga masuk akal.
Kalau ditanya apakah kami puas dengan rumah ini, jawabannya iya tentu saja. Masih di dalam Jakarta dan cukup dekat kemana2, jarak antara rumah dengan sekolah anak dan kantor yang masih masuk akal, akses ke tol dalam kota dan JORR (penting buat misua yang pabriknya di cikarang).
Ada satu mimpi kami yang belum terwujud, menambah sekitar 60m2 tanah yg letaknya tepat di sebelah rumah, demi kamar yang lebih besar untuk para asisten, kamar (+kamar mandi) tambahan untuk calon anak (amin), dan taman samping yang lebih luas. Tapi menurut pemiliknya, tanah kecil itu tidak untuk dijual dengan harga berapa pun :( well, we keep on dreaming, don’t we?
Kembali ke percakapan dengan si boss. Apakah dia sudah menemukan rumah idamannya? Jawabnya adalah belum, dan tambah sini dia tambah stres karena mau beranak lagi dan tinggal di apartemen bukan merupakan pilihan buat dia saat pulang kampung nanti.
Jadi berbahagialah untuk kita semua yang telah menemukan rumah impian, dan teruslah berusaha bagi yang belum. If i could share small tips: if you think you have done all you could to search the best house but still no clue, try again and try harder! I even did the survey before we got married (kedengeran terlalu PD bakal jadi dikawinin, dan PD bakal dipindah kantor ke Jakarta ya, but I DID! :D)
2 Comments:
iya nih.. lama-lama harga rumah semakin menggila.. ckckck..
beli rumah sampai ke paris? keren..
Post a Comment
<< Home