Kalau boleh sumbang suara (ciyeee…), dalam hal sekolah menyekolahkan anak, terutama yang berkaitan dengan bahasa pengantar di sekolah, ada baiknya ga usah berpolemik sih.
Secara umum, tiap orangtua pasti punya master plan dalam hal mendidik anaknya. Keputusan tiap orang tua pun dilatarbelakangi pengalaman, hasil diskusi, ekspektasi, dan tentu budget yang masuk akal untuk kondisi keuangan mereka masing2.
Biar ga terlalu ngomongin teori, saya pengen langsung liatin contoh2.
Beberapa temen saya, anaknya mengalami kesulitan atau keterlambatan berbicara. Setelah dianalisa oleh ahlinya, kemungkinan besar karena terlalu sering diekspos oleh acara tv berbahasa inggris, sedangkan pengasuh di rumah dan orang tuanya selalu berbahasa indonesia. Salah satu di antaranya bersekolah di sekolah bilingual, yang kemudian berhenti untuk mengikuti terapi berbicara dulu.
Ada pula teman saya yang anak2nya sukses bisa bicara bahasa inggris dan bahasa indonesia dan (bahkan) bahasa perancis. Ketika saya tanya resepnya, adalah KONSISTEN. Bapaknya konsisten ngomong bahasa prancis, dan ibunya konsisten ngomong bahasa indonesia. Kebetulan teman2 saya yang berhasil ini semuanya sempat tinggal di Prancis, yang artinya: ga ada pengasuh lah yaa. Dan masing2 bapak dan ibunya bisa mengukur tingkat penerimaan anak saat dijejali dua bahasa sekaligus. Not to under estimate the nanny capability, tapi setidaknya untuk tingkat pendidikan pengasuh anak saat ini, sangat diragukan dia bisa memainkan peran itu.
Saya sendiri bagaimana? Saya termasuk yang suka “ngetes” anak. Umur 1 ½ - 2 tahun Pilar saya masukin ke playgroup yang bilingual. Hasilnya? Tiap diajak berhitung: one, two, three, empat, lima, tujuh… terbengong2 saat liat acara kartun berbahasa inggris, pas diswitched ke bahasa Indonesia, mulai ngeh jalan ceritanya dan ketawa terbahak2 kalau ada yang lucu, dan beberapa contoh lain. Sepertinya dia bingung dengan dua bahasa ini. Dari situ saya memutuskan untuk switch lagi ke bahasa indonesia, full. Di sekolah, di rumah. Rencananya sampai kira2 Pilar sudah lancar berkomunikasi dalam bahasa indonesia, baru saya akan mulai mengenalkan bahasa lain, inggris misalnya. Dan itu bisa anytime soon. As soon as we feel that he’s got a good base in bahasa, it’s about time that we introduce him to other language. Kenapa sebegitu cepat? Hmm, karena (dengan nada optimis) ada kemungkinan saya ataupun suami untuk cross-posting di luar indonesia, entah kapan itu tapi insya Allah ada. Saat kesempatan itu datang, saya ga pengen adaptasi anak terhadap bahasa lain (terutama inggris) akan menjadi lebih susah karena dia belum bisa bahasa tersebut.
Jadi, walopun saya menyekolahkan anak ke sekolah yang berbahasa Indonesia, ga berarti saya antipati juga sama orang tua yang menggebu2 menyekolahkan anaknya ke sekolah bilingual atau full bahasa asing. Mungkin mereka punya master plan lain? Dan mereka konsisten untuk menjalankan peran orangtua dengan bilingual kid? Dan mereka aware dengan konsukuensi2nya? Why not?
Saran saya yang paling utama adalah being flexible. Saat anak menunjukkan reaksi menolak secara kontinu, cobalah menelaah kembali keputusan kita sebagai orang tua. Kadang mengubah keputusan juga merupakan salah satu solusi. Just like I did :) we did :)
Good luck with your choice fellow new parents! After all, we’re all new in this, we keep on learning and moving.
Secara umum, tiap orangtua pasti punya master plan dalam hal mendidik anaknya. Keputusan tiap orang tua pun dilatarbelakangi pengalaman, hasil diskusi, ekspektasi, dan tentu budget yang masuk akal untuk kondisi keuangan mereka masing2.
Biar ga terlalu ngomongin teori, saya pengen langsung liatin contoh2.
Beberapa temen saya, anaknya mengalami kesulitan atau keterlambatan berbicara. Setelah dianalisa oleh ahlinya, kemungkinan besar karena terlalu sering diekspos oleh acara tv berbahasa inggris, sedangkan pengasuh di rumah dan orang tuanya selalu berbahasa indonesia. Salah satu di antaranya bersekolah di sekolah bilingual, yang kemudian berhenti untuk mengikuti terapi berbicara dulu.
Ada pula teman saya yang anak2nya sukses bisa bicara bahasa inggris dan bahasa indonesia dan (bahkan) bahasa perancis. Ketika saya tanya resepnya, adalah KONSISTEN. Bapaknya konsisten ngomong bahasa prancis, dan ibunya konsisten ngomong bahasa indonesia. Kebetulan teman2 saya yang berhasil ini semuanya sempat tinggal di Prancis, yang artinya: ga ada pengasuh lah yaa. Dan masing2 bapak dan ibunya bisa mengukur tingkat penerimaan anak saat dijejali dua bahasa sekaligus. Not to under estimate the nanny capability, tapi setidaknya untuk tingkat pendidikan pengasuh anak saat ini, sangat diragukan dia bisa memainkan peran itu.
Saya sendiri bagaimana? Saya termasuk yang suka “ngetes” anak. Umur 1 ½ - 2 tahun Pilar saya masukin ke playgroup yang bilingual. Hasilnya? Tiap diajak berhitung: one, two, three, empat, lima, tujuh… terbengong2 saat liat acara kartun berbahasa inggris, pas diswitched ke bahasa Indonesia, mulai ngeh jalan ceritanya dan ketawa terbahak2 kalau ada yang lucu, dan beberapa contoh lain. Sepertinya dia bingung dengan dua bahasa ini. Dari situ saya memutuskan untuk switch lagi ke bahasa indonesia, full. Di sekolah, di rumah. Rencananya sampai kira2 Pilar sudah lancar berkomunikasi dalam bahasa indonesia, baru saya akan mulai mengenalkan bahasa lain, inggris misalnya. Dan itu bisa anytime soon. As soon as we feel that he’s got a good base in bahasa, it’s about time that we introduce him to other language. Kenapa sebegitu cepat? Hmm, karena (dengan nada optimis) ada kemungkinan saya ataupun suami untuk cross-posting di luar indonesia, entah kapan itu tapi insya Allah ada. Saat kesempatan itu datang, saya ga pengen adaptasi anak terhadap bahasa lain (terutama inggris) akan menjadi lebih susah karena dia belum bisa bahasa tersebut.
Jadi, walopun saya menyekolahkan anak ke sekolah yang berbahasa Indonesia, ga berarti saya antipati juga sama orang tua yang menggebu2 menyekolahkan anaknya ke sekolah bilingual atau full bahasa asing. Mungkin mereka punya master plan lain? Dan mereka konsisten untuk menjalankan peran orangtua dengan bilingual kid? Dan mereka aware dengan konsukuensi2nya? Why not?
Saran saya yang paling utama adalah being flexible. Saat anak menunjukkan reaksi menolak secara kontinu, cobalah menelaah kembali keputusan kita sebagai orang tua. Kadang mengubah keputusan juga merupakan salah satu solusi. Just like I did :) we did :)
Good luck with your choice fellow new parents! After all, we’re all new in this, we keep on learning and moving.
2 Comments:
PILAR JANGAN KE PARIS!!!! Keluar airmata tante ngebayanginnya *salah fokus*
Tapi iya, betul, other language will come along on its own dan sangat tergantung anaknya siiih.
yup, makanya ntar tante lela aja yg ngajarin bhs inggris yaaa :)
Post a Comment
<< Home