Wednesday, March 30, 2011

menerawang jauh ke depan...

Lagi ngutak-ngatik finplan keluarga, tiba2 tergelitik untuk elaborate on “biaya nikah anak”. Glek. Dengan inflasi ga karu2an kaya gini, apa kabarnya biaya nikah 25 tahun ke depan ya?

Sebelum nikah dulu, saya punya keinginan untuk kontribusi biaya nikahan. Apalagi orang sunda kan biaya nikah ditanggung full sama keluarga perempuan. Pengen rasanya ikut urunan biar ngurangi sedikit “beban” orangtua. Ternyata orangtua juga punya keinginan yang sama lho. Jangan salah sangka ya, maksud mereka bukannya ga mau nanggung full hajatan anak, tapi saat anak bilang sudah siap menikah, artinya secara materi juga sudah siap untuk memulai keluarga, dan “seharusnya” punya sedikit tabungan untuk ikut berkontribusi. Jalan tengahnya adalah membagi porsi mana yg menjadi scope kami (calon penganten) dan porsi mana yg menjadi scope orang tua. Kalo ditotaljendralkan kira2 masing2 kebagian 50%.

Angka 50% itu buat kami lumayan besar ya, karena melihat di depan jalan masih banyak proyek2 yg belum terlaksana seperti membeli mobil dan rumah. Kalo mau melebihi dari 50% itu taruhannya ya ga jadi beli mobil dan rumah, that simple. Untung aja saya, suami dan keluarga sepaham dalam menentukan budget, ga ada drama yg berkepanjangan.

Nah, pengen sebenernya bikin pendekatan yg sama buat anak2 kita kelak. Mudah2an kita bisa menanamkan pemikiran yg sama ke mereka, agar mereka terbiasa untuk menabung sedini mungkin dan setting goals of their lives. Semoga calon mantu dan besan kita nanti juga ga neko2 (yg ini aminnya panjang banget deh). Boleh aja mau bikin pesta prívate di bali, tapi kami ga urunan eaaah (besan 4l4y). Tapi nasib orang siapa yang tau ya? Untuk sekarang, kami hanya bisa ora et labora. Cemungudh…. (gak diterusin ah, beneran alay ini lama2).

2 Comments:

Anonymous mira said...

wowww hebring mi udah mikirin biaya pernikahan anak hehe..

11:14 PM  
Blogger aryanimia said...

pastinya mirrr..pretttt

3:47 AM  

Post a Comment

<< Home