and so it ended, the 2 years of breastfeeding
Belum cerita soal proses menyapih pilar di blog ini. Kami berdua memang berencana ingin menyapih pilar di usianya yang ke-2, bulan maret lalu. Bagaimana prosesnya tidak serta merta diputuskan begitu saja, karena selain membaca, bertanya tentang metoda apa yang sebaiknya dipakai, sebagai orangtua kami pun harus melihat implementasinya di anak seperti apa.
Ada anak yg bisa mudah disapih (bahkan menyapih sendiri), ada yg perlu waktu (sedikit ataupun banyak), dengan tingkat penerimaan di anak yg berbeda2 pula. They’re such a unique creature, aren’t they?
Untuk Pilar, kami memilih cara memindahkan menyusui ibu ke menyusu via botol karena memang selama ini kalau saya tidak di rumah, Pilar menyusu UHT via botol. Pernah kami mencoba hampir seminggu lamanya dengan memisahkan langsung anaknya dari susu ibunya, tapi dia histeris dengan level tertinggi yg pernah kami lihat. Tidak adil juga buat dia kalau malam dia harus “puasa” ngenyot, tapi di siang hari tetap ngenyot lewat botol. Perlu konsistensi dari kami orangtua dan juga pengasuhnya untuk sama sekali tidak memberi dia botol siang dan malam. Pernah kami minta pengasuhnya untuk menjauhkan botol di siang hari, tapi pada prakteknya tidak berhasil. Pilar selalu ngamuk.
Baiklah, akhirnya suami dan saya sepakat, metoda inilah yang akan kami tempuh dengan resiko yang kami sadari dari awal: Pilar akan “tergantung”dengan botolnya. Walaupun demikian kami yakin dan percaya dengan kemampuan berpikir dan verbal yang semakin hari semakin baik, kami akan lebih mudah untuk berbicara dengan Pilar, agar menyapih dari botol pun akan secepatnya terwujud.
14 februari 2011, 2 minggu sebelum ultah pilar yg ke-2, akhirnya Pilar mau “mengganti” kebiasaan nenen mama menjadi nenen botol. Seminggu sebelumnya percobaan ini penuh drama karena setiap saat dia melihat mamanya ada di dekat dia, pasti dia enggan menyentuh botolnya. Saya pun harus sembunyi agar dia mau minum dari botol. Suamilah yg berjasa menenangkan Pilar saat dia kangen nenen mamanya. Makasih ya pa :)
23 april 2011, 2 bulan setelah proses perpindahan ini, Pilar sudah bisa lepas dari botol. Saya cukup menyembunyikan botol2 di tempat yang tidak bisa dia cari, dan bilang kalau botol2 itu sudah tidak ada. Kalau dia ingin minum susu, harus minum dari kotaknya. Pesan itu juga lah yang saya wanti2 kepada pengasuhnya agar malam dan siang kami punya “constant effort” dan Pilar dapat segera menghilangkan kebiasaan “ngenyot”nya.
Alhamdulillah, tidak terlalu banyak drama yg dilewati dan semoga tidak berdampak trauma di Pilar. Itu sebenernya yang kami takutkan akan terjadi kalau proses penyapihan ini dipaksakan.
Oya, masih ada pe-er untuk kami. Pilar masih seneng grepe2 mamanya T_T mungkin pelampiasan karena dia ga boleh nenen ya?
Setiap orang tua pasti punya cara sendiri untuk menyapih anaknya, let’s not judge each other by saying mine is better than yours
Ada anak yg bisa mudah disapih (bahkan menyapih sendiri), ada yg perlu waktu (sedikit ataupun banyak), dengan tingkat penerimaan di anak yg berbeda2 pula. They’re such a unique creature, aren’t they?
Untuk Pilar, kami memilih cara memindahkan menyusui ibu ke menyusu via botol karena memang selama ini kalau saya tidak di rumah, Pilar menyusu UHT via botol. Pernah kami mencoba hampir seminggu lamanya dengan memisahkan langsung anaknya dari susu ibunya, tapi dia histeris dengan level tertinggi yg pernah kami lihat. Tidak adil juga buat dia kalau malam dia harus “puasa” ngenyot, tapi di siang hari tetap ngenyot lewat botol. Perlu konsistensi dari kami orangtua dan juga pengasuhnya untuk sama sekali tidak memberi dia botol siang dan malam. Pernah kami minta pengasuhnya untuk menjauhkan botol di siang hari, tapi pada prakteknya tidak berhasil. Pilar selalu ngamuk.
Baiklah, akhirnya suami dan saya sepakat, metoda inilah yang akan kami tempuh dengan resiko yang kami sadari dari awal: Pilar akan “tergantung”dengan botolnya. Walaupun demikian kami yakin dan percaya dengan kemampuan berpikir dan verbal yang semakin hari semakin baik, kami akan lebih mudah untuk berbicara dengan Pilar, agar menyapih dari botol pun akan secepatnya terwujud.
14 februari 2011, 2 minggu sebelum ultah pilar yg ke-2, akhirnya Pilar mau “mengganti” kebiasaan nenen mama menjadi nenen botol. Seminggu sebelumnya percobaan ini penuh drama karena setiap saat dia melihat mamanya ada di dekat dia, pasti dia enggan menyentuh botolnya. Saya pun harus sembunyi agar dia mau minum dari botol. Suamilah yg berjasa menenangkan Pilar saat dia kangen nenen mamanya. Makasih ya pa :)
23 april 2011, 2 bulan setelah proses perpindahan ini, Pilar sudah bisa lepas dari botol. Saya cukup menyembunyikan botol2 di tempat yang tidak bisa dia cari, dan bilang kalau botol2 itu sudah tidak ada. Kalau dia ingin minum susu, harus minum dari kotaknya. Pesan itu juga lah yang saya wanti2 kepada pengasuhnya agar malam dan siang kami punya “constant effort” dan Pilar dapat segera menghilangkan kebiasaan “ngenyot”nya.
Alhamdulillah, tidak terlalu banyak drama yg dilewati dan semoga tidak berdampak trauma di Pilar. Itu sebenernya yang kami takutkan akan terjadi kalau proses penyapihan ini dipaksakan.
Oya, masih ada pe-er untuk kami. Pilar masih seneng grepe2 mamanya T_T mungkin pelampiasan karena dia ga boleh nenen ya?
Setiap orang tua pasti punya cara sendiri untuk menyapih anaknya, let’s not judge each other by saying mine is better than yours
3 Comments:
ohemjii miiii malik jg masi grepe2 emaknya huaaaa pusing deh
Aaaaa ... gue pun mau nyapih Igo dari botol. Pilar kl tengah malam masih nyari susu ga?
@mira: udah lewat 6 bulan disapih mir? Baiklah, gue tidur pake turtleneck kalo gitu T_T
@manda: tengah malem udah tinggal minta peluk mand, yg susah pas mau tidur aja. Tapi dia beneran percaya kalo botol2 itu udah ngga ada. Amazed juga gue :D
Post a Comment
<< Home