Monday, October 31, 2011

welcoming november

i'm actually running out of ideas to update this blog. so let's do it in a sequential way :)

this week is all about idul adha day. we decided to spend the day in bandung, and have 1 share of qurban in bandung, the other one in jambi. as hubby's just recovered from fever last week, no long distance driving for now. let's see if train seats are still available for the 3 of us to go to bandung *fingers crossed*

the week after is booked for this big reunion in campus *so another trip to bandung is planned* chemical engineers from all years are expected to come. well, we're not so sure that the event will be fabolous, knowing the huge generation gap, but at least we'll come and see how it goes. little pilar will join the team since his nannny's taking days off to attend mbak's wedding.

yup, mbak is getting married in 2 weeks. we're happy for her. happier to know she'll be coming back as her future husband's working outside java. she's taking 2 weeks off for this event, so yes, expect a turbulence situation at home :)

the 3rd week is booked for jenggul-putri wedding. love to see an acehnese wedding and taste some exotic cuisine ;) at the same time, there'll be an open house at pilar's school. we'd better firm up the idea to enroll him at the same place next year or choose another school.

conclusion: and i need a calm, tranquil week-end for the 4th week.. maybe a spa.. or totok aura.. or stuff like that :)

walk - foo fighters

A million miles away
Your signal in the distance
To whom it may concern
I think I lost my way
Getting good at starting over
Every time that I return

I'm learning to walk again
I believe I've waited long enough
Where do I begin?
I'm learning to talk again
Can't you see I've waited long enough
Where do I begin?

Do you remember the day
We built these people mountains
And sat and watched them burn
I think I found my place
Can't you feel it growing stronger
Little conquerors

I'm learning to walk again
I believe I've waited long enough
Where do I begin?
I'm learning to talk again
I believe I've waited long enough
Where do I begin?

Now
For the very first time
Don't you pay no lie
Set me free again
You keep alive a moment at a time
But still inside a whisper to a liar
To sacrifice but knowing to survive
The first to find another state of mind
I'm on my knees, I'm waiting for a sign
Forever, whenever
I never wanna die
I never wanna die
I'm on my knees
I Never wanna die
Dancing on my grave
Running through the fight
Forever, whenever
Never wanna die
Never wanna leave
Never say goodbye

#one day i'll take you to one of their concerts, pilar ;)

Monday, October 24, 2011

Taman Lalu-lintas Bandung

Just got back from bandung, THE home town. We took pilar to taman lalu lintas, my child hood playpark. We didn’t have dunia fantasi kind of thing in Bandung at the time so TLL has been our favorite place. Not to mention the cheap price ya ;)

It’s his 2nd time to TLL and he’s loving it. The attractions are kind of old and not so safe, so we only picked the cycling circuit, the train, and the slide.. only stayed there for about 1 ½ hour but the kid was enjoying himself to the max. sorry kiddo, next time ya. Bandung-jakarta traffic is horrible on Sunday afternoon so we better hurry.

let's see some pictures of you and papa doing the bicycle ride :)




Monday, October 17, 2011

Hai pilar,
Tadi pagi sewaktu mama dan papa mau pergi ke kantor kamu nangis, ga pengen lepas dari gendongan mama. Mama ajakin main sepeda dulu pilar ga mau, maunya digendong mama terus.
Week-end kemaren memang kita semua kecapean ya nak. Acara demi acara tiada henti. Kata teteh kemaren pilar bobo di jalan mau sekolah, dan bobo siang pun sampai 3 jam. Malam pun bobonya cepet. Makanya tadi pagi pas pilar masih ngantuk dan mama papa udah mau ngantor, sedikit bete ya?
Tapi tadi mama telpon teteh, ga lama mama papa pergi udahan kok nangisnya. Pilar teteh dan mbak main dulu di warung pakde sebelum balik ke rumah :)
Weekend ini kita bersenang2 ya nak. Promise you ;)

Wednesday, October 12, 2011

to nino :)

sepupu terdekat suami mau nikah besok :) alhamdulillah, seneng sekali dapat kabarnya. mereka dekat sejak..lahir? karena pernah tinggal di kota yang sama (jambi), sekolah tk bareng2, sampe akhirnya sang sepupu pindah kota mengikuti tugas orang tuanya. ada foto mereka pasang2an pake baju daerah di karnaval anak2 tk. lucu sekali :) lalu waktu kuliah di bandung pun ngontrak rumah bareng2, bref deket banget lah ya intinya.

suami pun sering curhat2 dari hal yg absurd sampe serius sama sepupu ini, termasuk urusan perpacaran :) nah, saya pernah cerita di blog ini soal proses deketnya saya sama suami, yang gak lepas dari andil sang sepupu. jauh setelah kita akhirnya pacaran, suami bilang, salah satu yang meyakinkan dia untuk pacaran sama saya adalah rekomendasi dari dia. dia ngerasa kalau kami berdua cocok deh kalau jadi pasangan :)

ninoooo, happy wedding yaa! hope you both sail your way to that place you call your own, not always smoothly but happily.

our pray for you :')

ps: maaf ga bisa hadir pas akad ya nin, resepsi insya Allah full team.

Tuesday, October 11, 2011

small world

Alhamdulillah, selesai tugas mewakili perusahaan untuk presentasi di mantan kampus ITB. lancar dan sangat menyenangkan. terlebih karena mahasiswa2 yang hadir sangat antusias memperhatikan dan mangajukan pertanyaan. bahasa inggris mereka pun bagus2, berani, dan unyu...(abaikan yg terakhir).

Bapak ekspat memberi apresiasi yang baik. katanya, terus saya ngajar apa? udah dibilangin semua sama kamu. ahem. makasih bapak :)

nah, ada cerita lucu. jadi sebulan sebelumnya, saya training di paris dan bapak ekspat ini adalah trainernya. di akhir training, saat kita dadah2an, dia bilang ah, dunia ini kecil, paling kita bakal ketemu lagi. dan bener aja. sebulan kemudian kita dipertemukan lagi oleh kesempatan :)

lalu, saat cek imel di hotel di bandung, tiba2 saya dapet email dari temen kuliah dulu waktu di paris, julien. dia bilang dia lagi di hotel (yg sama dengan saya) karena akan mengajar di itb juga. hoaaa what a coincidence.

akhirnya kami bertiga, saya, julien, bapak ekspat pun makan malam bersama sambil cerita2 ngalor ngidul soal dunia kerja, orang2 yang kami kenal, indonesia, dll.

yes, it's a small world indeed :) mungkin salah satu mahasiswa yang hadir di presentasi saya kemarin akan bekerja dengan saya suatu hari nanti? :)

les clans des divorcees - my birthday present

i was a bit pessimistic when alejandra wanted to take us to see a spectacle the day we had our girls day out some times ago in paris. all i wanted was to have a nice and long chat with the girls. ok, after she said that she already got the tickets and all tickets were sold out, i started to think that it wasn't a bad idea after all.

it turned out great, we really had a great time watching it. i understood around 80% of the story since they were talking real fast but the overall idea was so funny and entertaining :)

the story was about 3 different ladies who just got divorced and decided to rent an appartment together. they shared their divorce stories and also how they got back to new relation ships. all with french kind of humour offcourse.

the show was held in the rive-gauche theatre. a small but decent theatre. after getting out of there, we got ourselves delicious italian gelatto next door :)

merci marjorie, merci alejandra. a tres bientot :)

Friday, October 07, 2011

Kalau boleh sumbang suara (ciyeee…), dalam hal sekolah menyekolahkan anak, terutama yang berkaitan dengan bahasa pengantar di sekolah, ada baiknya ga usah berpolemik sih.

Secara umum, tiap orangtua pasti punya master plan dalam hal mendidik anaknya. Keputusan tiap orang tua pun dilatarbelakangi pengalaman, hasil diskusi, ekspektasi, dan tentu budget yang masuk akal untuk kondisi keuangan mereka masing2.

Biar ga terlalu ngomongin teori, saya pengen langsung liatin contoh2.

Beberapa temen saya, anaknya mengalami kesulitan atau keterlambatan berbicara. Setelah dianalisa oleh ahlinya, kemungkinan besar karena terlalu sering diekspos oleh acara tv berbahasa inggris, sedangkan pengasuh di rumah dan orang tuanya selalu berbahasa indonesia. Salah satu di antaranya bersekolah di sekolah bilingual, yang kemudian berhenti untuk mengikuti terapi berbicara dulu.

Ada pula teman saya yang anak2nya sukses bisa bicara bahasa inggris dan bahasa indonesia dan (bahkan) bahasa perancis. Ketika saya tanya resepnya, adalah KONSISTEN. Bapaknya konsisten ngomong bahasa prancis, dan ibunya konsisten ngomong bahasa indonesia. Kebetulan teman2 saya yang berhasil ini semuanya sempat tinggal di Prancis, yang artinya: ga ada pengasuh lah yaa. Dan masing2 bapak dan ibunya bisa mengukur tingkat penerimaan anak saat dijejali dua bahasa sekaligus. Not to under estimate the nanny capability, tapi setidaknya untuk tingkat pendidikan pengasuh anak saat ini, sangat diragukan dia bisa memainkan peran itu.

Saya sendiri bagaimana? Saya termasuk yang suka “ngetes” anak. Umur 1 ½ - 2 tahun Pilar saya masukin ke playgroup yang bilingual. Hasilnya? Tiap diajak berhitung: one, two, three, empat, lima, tujuh… terbengong2 saat liat acara kartun berbahasa inggris, pas diswitched ke bahasa Indonesia, mulai ngeh jalan ceritanya dan ketawa terbahak2 kalau ada yang lucu, dan beberapa contoh lain. Sepertinya dia bingung dengan dua bahasa ini. Dari situ saya memutuskan untuk switch lagi ke bahasa indonesia, full. Di sekolah, di rumah. Rencananya sampai kira2 Pilar sudah lancar berkomunikasi dalam bahasa indonesia, baru saya akan mulai mengenalkan bahasa lain, inggris misalnya. Dan itu bisa anytime soon. As soon as we feel that he’s got a good base in bahasa, it’s about time that we introduce him to other language. Kenapa sebegitu cepat? Hmm, karena (dengan nada optimis) ada kemungkinan saya ataupun suami untuk cross-posting di luar indonesia, entah kapan itu tapi insya Allah ada. Saat kesempatan itu datang, saya ga pengen adaptasi anak terhadap bahasa lain (terutama inggris) akan menjadi lebih susah karena dia belum bisa bahasa tersebut.

Jadi, walopun saya menyekolahkan anak ke sekolah yang berbahasa Indonesia, ga berarti saya antipati juga sama orang tua yang menggebu2 menyekolahkan anaknya ke sekolah bilingual atau full bahasa asing. Mungkin mereka punya master plan lain? Dan mereka konsisten untuk menjalankan peran orangtua dengan bilingual kid? Dan mereka aware dengan konsukuensi2nya? Why not?

Saran saya yang paling utama adalah being flexible. Saat anak menunjukkan reaksi menolak secara kontinu, cobalah menelaah kembali keputusan kita sebagai orang tua. Kadang mengubah keputusan juga merupakan salah satu solusi. Just like I did :) we did :)

Good luck with your choice fellow new parents! After all, we’re all new in this, we keep on learning and moving.

Thursday, October 06, 2011

Bring it on!

Ok, where shall I start?

Setelah kembali dari paris, ga nyampe seminggu saya kembali harus pergi ninggalin anak dan suami di rumah. Tujuannya: Balikpapan, kota yang pernah saya tinggali selama lebih dari 2 tahun lamanya.

Seru! Terlebih karena tinggal di hotel yang pernah saya tinggali (juga) selama 3 bulan, ketemu temen2 lama, bertukar cerita, dan menikmati kuliner balikpapan yang susah ditemui di Jakarta. Ok, ada training juga sih. Hahaha.

Bref, setelah balik ke Jakarta, ternyata harus ikutan training lagi (Masya Allah, sering amat sih training mbak?). untung yang terakhir ini tetep di Jakarta, ga kebayang kalo harus pergi lagi ninggalin si bocah yang semakin ganteng dan menggemaskan (gantengnya iya banget, menggemaskannya kadang suka kelewatan sampai si mamah ini sering teriak “Astaghfirullaahalazim Pilaaaaaaar”).

Dan gongnya, senin besok ada tugas (sedikit mendadak) dari kantor. Taunya pas lagi di Balikpapan. Bapak boss ngasih sms kalo ada tugas menarik nih di Bandung, jadi dosen tamu bareng2 dengan seorang ekspat (yang juga pemberi training di Paris bulan lalu). Setengah ga percaya, saya sms balik, “maksudnya tugas buat Bapak?”. “Bukan, mia yg jadi dosen tamunya”.

Oooh, sh..

Antara seneng dapet kepercayaan mewakili kantor dan tremor karena grogi disandingkan sama bapak ekspat yang termasyhur itu.

10 menit kemudian baru akal sehat saya balik dan bales smsnya Bapak boss “Masih tremor sih Pak, tapi insya Allah siap”.

Baiklah, cukup dengan drama kehebohan saya untuk sebuah tugas yang kurang lebih adalah mempresentasikan perusahaan saya dan proyek2 yang telah selesai dan sedang berlangsung di divisi tempat saya bekerja. Slot waktunya pun “hanya” 1 jam dari 1 minggu perkuliahan oleh Bapak ekspat di kampus tercinta ITB.

Mungkin faktor yang terakhir yang bikin saya degdegan. Kembali ke kampus setelah 9 tahun ciao dari jalan ganesha. Excited udah pasti, kangen kampus, kangen liat wajah2 nan polos dan lugu (ah masaaa?), dan kangen untuk berbagi sedikit “ilmu” yang saya peroleh selama bekerja.

Di saat yang sama, mungkin karena dihajar travelling dalam waktu yang berdekatan, badan lagi didera radang tenggorokan. Bahkan suara sampai hilang, 4 hari sebelum tugas presentasi. Insya Allah, sudah fit for purpose sebelum bertugas ya Allah.. Bantu Mia ya Allah.. :)

Adik2 mahasiswa, silakan tanya sebanyak2nya, asal jangan tanya soal UASmu yaa..saya kan sudah lupita :)